Begitu kerinduan tidak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata, tak lagi
bisa diungkapkan dengat tulisan indah, maka air mata tak terasa menetes seperti
sumber mata air yang selalu mengalir. Tisu pun tak bisa membendungnya, itulah
kesaksianku kepada salah seorang ibu yang
mempunyai anak di kota seberang. Si anak lagi menempuh kuliah, sifat seorang
ibu pasti merasa bahagia, bangga dan bersyukur ketika anak semata wayang memiliki ahlak dan
budi pekerti yang baik. sebaliknya seorang ibu pun pasti merasa dunia sempit,
bahkan tidak seperti daun kelor. Di saat anak tidak lagi mendengarkan petuah
yang disampaikan. Ketika air mata itu menetas tak terbendung maka kain bajunya
ia usapkan kerena ia mendengar anaknya kurang sehat. Saya bilang kepadanya, dia
tidak apa-apa, hanya kelelahan mungkin kerena ia kurang istirahat, saya pun
menambahkan kata-kata penegas, bahwa lelah dalam kebaikan itu lebih baik dari
pada tidak tahu apa yang harus dikerjan sehingga setan merasuki pemikirannya
untuk melakukan yang aneh-aneh. Hai teman-temanku, kebahagian bagi seorang anak
bila ada yang memikirkan kehidupannya, mengarahkan kepada kebenaran dan dia
selalu mendoakan. Inilah cerita singkat semoga dapat memberikan inspirasi dalam
hidup, bahwa seorang ibu mencitai anaknya dengan tampa batas. pada zaman
kholifah umar dulu ada sahabat yang bertanya tentang kebaktiannya kepada
ibunya,
Sahabat : umar, sudahkan saya membalas jasa-jasa ibu, kerana saya
mengendong ia dari rumah sampai ke makkah ini.
Umar : wahai sahabat, jasamu itu
belum seberapa, tidak lah cukup apa yang lakukan saat ini walaupun engaku
merawat ibumu seumur hidup
Wahai sahabatku, tahukan kalian yang saya ceritkan diatas ita, ia adalah ibu Moh. Paedi. Ku tulis cerita ini
agar kita terinspirasi untuk mengingat pesan-pesannya agar tidak menyesal
dikemudian hari. Adikku paedi sekarang telah menjadi orang no 2 di Universitas kanjuruhan
Malang. Orang no 2, maksudnya adalah wakil presiden BEM semoga ia menjadi
inspirasi bagi kehidupan kampus. amin



0 comments:
Posting Komentar